.

18 Apr 2014

Tangkuban Parahu, Si Cantik Nan Berbahaya



Setelah mendapat undangan lokakarnya dari Badan Vulkanologi Bandung, maka pada tanggal 2 September 2013 pagi, saya dapat menjejakan kaki lagi di Gerbang Tangkuban Parahu. Hari masihlah cukup pagi, masih cukup dingin untuk melepaskan Jaket yang masih setia membekap badan ini. Sinar matahari pagi menerobos dedaunan di Area loket seakan mencoba mengusik ketentraman pagi itu.
Sampai di tempat parkir bis, memang belum ramai wisatawan mengunjungi kawasan wisata favorit ini. setelah berganti kendaraan dari bis ke moda transportasi yang disebut wara wiri, sejenis kendaraan kecil khusus untuk sampai ke puncak gunung.Kendaraan ini lah yang diperbolehkan untuk pulang pergi ke puncak. Bis hanya boleh sampai tempat parkir sementara mobil pribadi boleh sampai ke puncak.

DI sisi kiri dan kanan menuju puncak saya disuguhi hijauan pohon ditangkupi lumut dan paku-pakuan. tak jarang bau belerang ikut menyengat penciuman. oleh karenanya disarankan untuk memakai masker. 

Pagi itu, setelah diantar mobil wara-wiri sampailah di Puncak nan cantik Tangkuban Parahu. Langit biru cerah. Udara sedang bersih. cocok untuk mengabadikan beberapa kerabat dari Sang Tangkuban Parahu. 

Salah satu keunikan Gunung Tangkuban Parahu adalah adanya fasilitas kendaraan umum yang bisa sampai ke puncak. Tak banyak gunung berapi memiliki keunikan seperti itu. Oleh karena keunikan dan kecantikan Tangkuban Parahu, beberapa ilmuwan asing jatuh jati padanya. Bahkan ingin dikubur didekatnya. Sebut saja Junghuhn seorang seniman, peneliti, botanis, dokter, fotografer, pelukis dan petualang ingin sekali dikubur sambil menghadap ke Tangkuban Parahu. Prof. T.H. Klompe (kajur I Geolog-Tambang ITB) dan Prof. George Andrian de Neve malah ingin dikremasi dan abunya ditebarkan di kawah Tangkuban Parahu. Abu Klompe dan De Neve ini akhirnya dikuburkan di Kawah Ratu.

Gunung cantik ini juga unik dilihat dari bentuknya. Jika dilihat dari kota Bandung, maka akan terlihat seperti perahu yang terbalik. Bagi masyarakat Sunda, gunung ini ada kaitannya dengan legenda Sang Kuriang dan Dayang Sumbi. Menurut para ahli, bentuk yang terlihat sekarang diciptakan oleh beberapa kali letusan sangat dahsyat yang memapas bagian puncaknya.

Letusan yang berkali-kali itu kemudian menciptakan kawah-kawah baru hingga hari ini. Kawah yang terkenal tentunya adalah Kawah Ratu, Kawah Upas dan Kawah Domas. Di Kawah Domas, pengunjung dapat merebus telur dari air panas yang muncul dari perut bumi. selain itu juga lumpur belerangnya dipercaya dapat menyembuhkan penyakit. Selain itu masih ada beberapa kawah seperti Kawah Dedemit. dinamakan seperti itu karena seringkali ada pengunjung yang tiba-tiba pingsan dan bahkan mati ketika berkunjung ke Kawah Dedemit ini. Karena tidak kelihatan apa dan siapa penyebabnya, maka dikaitkanlah dengan keberadaan dedemit di kawah itu yang tak mau diganggu. Padahal menurut pakarnya, keadaan pingsan atau kematian itu disebabkan oleh uap beracun yang bisa muncul tiba-tiba dan tidak bisa dideteksi yang kemudian terhirup oleh manusia sehingga menyebabkan kematian.
Nah, Itulah, di balik kecantikan Tangkuban Parahu ini sebetulnya ada potensi bencana yang harus dicermati. Gunung ini masih merupakan gunung berapi aktif yang kapan saja bisa meletus. Demikian juga sebaran uap beracunnya yang susah untuk dideteksi oleh manusia. untuk mengantisipasi hal yang tak diinginkan, maka Gunung ini dipantai setiap waktu. setiap pergerakannya selalu dicatat dan diteliti oleh para kuncen yang setia menungguinya.



Bagi anda yang ke Bandung, silahkan kunjungi Gunung berapi ini dan tetap berhati-hatilah. Ikuti petunjuk pengamanan yang tepasang di sekitar kawah dan nikmati keindahan panorama Gunung Tangkuban Parahu